Soft Launching Adexco, Kepala BNPB Harap Indonesia Jadi Laboratorium Manajemen Bencana

Share This :  

Share on twitter
Share on facebook
Share on whatsapp

Jakarta | Indonesia memiliki sejarah ragam bencana yang memberikan dampak baik korban jiwa dan harta benda yang luar biasa. Sehubungan dengan berbagai jenis bencana yang sering terjadi ini, Kepala BNPB Doni berharap Indonesia tidak hanya menjadi supermarket bencana tetapi laboratorium manajemen bencana baik dalam dan luar negeri.

Pesan tersebut disampaikan Doni saat membuka soft launching Asia Disaster Management and Civil Protection and Conference (Adexco) di Graha BNPB, Jakata Timur, pada Senin (24/2/2020). Adexco akan diselenggarakan di Jakarta International Expo, Kemayoran Jakarta pada 20 – 22 Oktober 2020 mendatang.

“Seminar ini salah satu cara untuk memformulasikan solusi jangka panjang, terlebih lagi dalam konteks membangun ekosistem, ini membutuhkan waktu lama,” ujar Doni.

Sebelum memulai seminar nasional kebencanaan yang mengusung tema “Penerapan Inovasi Teknologi dan Pendekatan Ekosistem Dalam Penanggulangan Bencana Berbasis Kearifan Lokal”, Doni menyampaikan beberapa pesan terkait kondisi kebencanaan di tanah air. Menurutnya, kategori bencana dibagi dalam empat domain yaitu bencana geologi, hidrometeorologi I, hidrometeorologi II dan bencana non alam. Bencana hidrometeorologi yang pertama lebih pada kebakaran hutan dan lahan, sedangkan kedua menyangkut banjir, banjir bandang, longsor, abrasi, gelombang ekstrem, atau puting beliung.

Doni mengilustrasikan mengenai industri yang dapat dibangun dalam menghadapi bencana gempa bumi. Korban sebagai besar disebabkan karena bangunan dan bukan gempa. Bangunan tahan gempa masih menjadi tantangan besar bagi sebagian besar masyarakat. Di samping itu, Doni juga mengingatkan bahwa tidak hanya bangunan rumah tetapi juga shelter atau fasilitas umum yang dapat digunakan, seperti masjid atau jembatan umum.

Apabila melihat sejarah gempa dan juga tsunami, Indonesia memiliki sejarah yang berulang. Misal kejadian gempa Aceh. Doni menyampaikan bahwa ada bukti bahwa tsunami telah ada sejak 7.500 tahun lalu yang dapat diketahui dari lapisan paleotsunami di gua Eek Leuntik, Aceh Besar. Menyikapi potensi yang terjadi ada, Doni menawarkan upaya penanganan sebagai upaya pencegahan yang berbasis ekosistem.

Belajar dari tsunami Selat Sunda 2018 di wilayah Pandeglang, khususnya Tanjung lesung, masyarakat di pinggir pantai terselamatkan karena gugusan pohon yang menghambat terjangan tsunami. Mantan komandan Paspampres ini menyampaikan bahwa benteng alam terbaik yaitu vegetasi, seperti mangrove yang ditanam paling pinggir, cemara udang pada lapis kedua dan pule atau ketapang pada lapis ketiga.

Pada kesempatan itu, Doni berbagi mengenai salah satu jenis pohon yang sangat istimewa untuk banteng tsunami yaitu Palaka. Pohon yang istimewa ini karena penyemaian terjadi secara alami. Masyarakat Seram telah mengetahui bagaimana melakukan pembibitan setelah ada proses penyemaian. BNPB telah membibitkan sekitar 20.000 batang pohon Palaka.

“Pohon ini sudah setinggi 6 meter dalam 1 tahun. Kita selamatkan pohon ini sebagai banteng alam,” tambah Doni.

Pesan Doni yang sangat penting yaitu perlunya kita berpikir untuk ratusan tahun ke depan. Hal tersebut dilatarbelakangi bahwa Indonesia punya potensi bencana. Seperti gempa dan tsunami, BNPB mencatat 250 peristiwa terjadi dengan jumlah korban jiwa besar.

Sementara itu, bencana yang datang silih berganti itu sejatinya dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia dan juga negara lain di Asia, terkait mitigasi dan penanganan bencana. Paradigma tentang kebencanaan harus dipahami secara kolektif bahwa bencana merupakan urusan bersama, dengan peran aktif dari kelima unsur Pentaheliks (pemerintah, akademisi, lembaga usaha, komunitas, dan media massa).

Sehubungan dengan Adexco, BNPB dan Expoindo Kayanna Mandiri akan melaksanakan pameran konferensi terbesar di dunia terkait kebencanaan, yang merupakan upaya untuk menempatkan Indonesia sebagai pusat solusi kebencanaan di kawasan Asia. Kegiatan yang mengusung tema ‘Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita’ akan diikuti oleh 300 exhibitor dengan memamerkan hulu dan hilir industri kebencanaan. Mulai dari disaster alarm dan warning system, fire protection equipment, power device, CCTV, hingga emergency and rescue equipment.

Related Post

Bill Gates hingga Jack Ma Sumbang Dana Bantu Korban Corona
Persebaran penyakit COVID-19 atau virus corona semakin meluas. Hingga kini sudah menjangkit 148 negara secara global....
Tik Tok Beri Santunan Rp 100 Miliar untuk Petugas Medis Covid-19 yang Gugur
Satgas Covid 19 menerima sumbangan dari TikTok senilai Rp 100 miliar. Donasi ini ditujukan untuk santunan...
Investasi Bersama Membangun Indonesia sebagai Pusat Pengetahuan dan Teknologi Kebencanaan
JAKARTA – Indonesia memiliki sejarah ragam bencana yang memberikan dampak baik korban jiwa dan...
Kolaborasi Pentahelix Jadi Kunci Penanganan Bencana
Jakarta- Bencana yang datang silih berganti itu sejatinya dapat menjadi pembelajaran bagi Indonesia dan...
Dibalik bencana Tsunami Aceh 2004
Bagaimana Tsunami Aceh membuka mata dunia soal penanggulangan bencana? Simak kronologis lengkap dan pelajaran...
3 Bencana yang sering terjadi di Indonesia dan cara untuk menanggulanginya
Berlokasi di Cincin Api Pasifik, Indonesia harus selalu awas dengan bencana, resiko dan siap...
Berkat pelajaran geografi, seorang gadis Australia jadi pahlawan saat tsunami
Lewat kisah inspiratifnya, ia menyelamatkan lebih dari 100 nyawa saat Tsunami 2004. Baca kisahnya...
BNPB dan Gojek Jalin Kerja Sama Penanggulangan Bencana
Kerja sama ini merupakan upaya konkret BNPB dalam pentaheliks, yaitu pelibatan unsur Lembaga usaha...
Apa saja ancaman bencana yang ada di Indonesia?
Jakarta Pada tahun 2018, Indonesia mengalami berbagai bencana alam. Mulai dari gempa di Lombok,...
BNPB: 20 Tahun Terakhir, Korban Bencana Indonesia Terbanyak Kedua Dunia
Jakarta – Kepala Badan Nasional PenanggulanganBencana (BNPB) Letjen Doni Monardo menyebutIndonesia berada di peringkat...

STAY UPDATED WITH US

Due to concerns over the outbreak of Coronavirus (COVID-19) and in considerations of the health and safety of participants and staff members, we have decided to postpone Adexco exhibition until further notice